Lombok Bukan Cabe, deh… (Part 2)

Sabtu, 14 Juli 2012…

Karena delay 2 jam, pesawat kami baru take off dari bandara Juanda pukul 20.45 WIB. Perjalanan Surabaya-Lombok ditempuh selama sekitar 40 menit. Pukul 22.30 WITA kami mendarat di Bandara Internasional Lombok.

Bandara yang terletak di Kab. Lombok Tengah ini jaraknya sekitar 30km dari Mataram, ibukota Lombok. Karena kami kemalaman sampai di Lombok, sudah tidak ada Damri menuju Mataram yang beroperasi. Akibatnya kami harus merogoh kocek lumayan mahal untuk membayar taksi.

Dengan menggunakan taksi, kami menuju daerah Pagutan yang termasuk dalam kota Mataram, yaitu tempat tinggal mbak Wati. Perjalanan ditempuh sekitar 30 menit. Sesampainya di rumah mbak Wati kami mengobrol sebentar lalu beristirahat.

Minggu, 15 Juli 2012…

Petualangan hari pertama dimulai! Uhuy! Setelah sarapan di rumah mbak Wati, kami menuju Oka Homestay untuk menyewa sepeda motor untuk 3 hari. Setelah itu saya, Ayik, mbak Wati, dan keponakannya, Sheesy, menuju rumah mas Duta di Gerung, ibukota Kab. Lombok Barat. Di rumah mas Duta ini kami bertemu peserta jalan-jalan yang lain. Ada mas Hendra, pemuda asli Lombok yang kuliah di Jakarta dan sedang pulang kampung karena libur semester. Ada Ocha dan Vivin, duo mahasiswa yang menempuh perjalanan darat dari Yogyakarta. Dan ada Fathima, anak rantau yang bekerja sebagai PNS di Lombok.

Hari ini agenda kami adalah mengunjungi Gili-gili di Sekotong, Lombok Barat. Perjalanan selama sekitar 1 jam kami tempuh dari Gerung menuju Sekotong. Jalannya berkelok-kelok dan naik turun karena melewati perbukitan. Pelabuhan komersil untuk menyeberang menuju Gili di Sekotong ini sebenarnya ada di pelabuhan Tawun, dan tarifnya Rp. 250.000. Namun karena mas Duta sudah sangat sering kesana dan bergaul dengan para nelayannya, dia mengetahui tempat penyeberangan melalui sebuah desa nelayan, dengan jarak tempuh yang lebih dekat. Untuk tarifnya kita cukup membayar seikhlasnya kepada nelayan tsb. Tempatnya dimana? Lahaciaaa..tanya aja ke mas Duta. Hihi.

Peta Gili-gili di Sekotong, Lombok Barat

Di Sekotong ini ada 4 Gili yang berdekatan, yaitu Gili Sudak, Gili Kedis, Gili Tangkong, dan Gili Nanggu. Di antara keempat Gili ini, Gili Nanggu memang yang paling terkenal, karena di sana ada sebuah resort, dan biasa dipakai pasangan yang sedang berbulan madu.

Menyeberang dengan kapal nelayan

Gili Sudak

Gili Sudak at the background

Gili pertama yang kami kunjungi adalah Gili Sudak. Dengan menyeberang tidak sampai 10 menit, kami sudah sampai di Gili tersebut. Subhanallah, airnya bening dan biruu sekali. Pasirnya putih. Dan yang penting, tidak ramai!

ki-ka : Vivin, Ocha, mas Hendra, mas Duta, me, Sheesy, Fathima, Ayik, mbak Wati

Di Gili Sudak ini tidak ada penginapan dan penjual makanan. Tetapi ada semacam pendopo terbuka yang bisa dipakai untuk makan dan berkumpul. Beberapa kursi malas juga disediakan di pinggir pantai.

Di sini kami berjalan-jalan saja berkeliling pulau. Setelah sholat dan makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Gili berikutnya.

Makan siang dengan nasi 4ribuan

Gili Kedis

Ini Gili yang kecil sekali dan tidak berpenghuni. Di atasnya tidak terdapat bangunan apapun. Dengan berjalan kaki tidak sampai 5 menit, sudah bisa mengelilingi Gili ini.

Gili Kedis ini favoritnya mas Duta, karena katanya alam bawah lautnya yang paling bagus di antara Gili-gili yang lain. Tidak perlu berenang sampai ke tengah laut untuk bisa mendapati karang dan ikan-ikan yang berkumpul. Sayangnya perairan di Gili Kedis ini dangkal sekali. Saat snorkling, beberapa dari kami sempat tergores karang sangking dangkalnya.

Underwater Gili Kedis. Taken by : Setiawati.

Little Patrick Star

Hari sudah menjelang sore, dan kami masih ingin melanjutkan perjalanan ke Gili Tangkong dan Gili Nanggu. Sayangnya bapak nelayan yang mengantar kami tidak berani membawa kami ke sana karena ombak sedang besar. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke daratan pulau Lombok, kemudian melihat sunset melalui salah satu bukit yang ada di dekat situ.

View dari atas bukit

Sunset dari atas bukit

Laskar sunset

Setelah matahari tenggelam, kami kembali menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke rumah.

Senin, 15 Juli 2012…

Rombongan jalan-jalan hari ini hanya terdiri dari saya, Ayik, mbak Wati, mas Hendra, Ocha, dan Vivin. Mas Duta dan Fathima tidak bisa ikut karena harus bekerja. Hari ini kami kembali menempuh perjalanan panjang dari Pagutan menuju pantai-pantai selatan yang berada di Kab. Lombok Tengah. Perjalanan ditempuh selama sekitar 1,5 jam menggunakan sepeda motor. Di selatan Lombok berjejer pantai-pantai cantik yang belum terlalu banyak dikunjungi wisatawan. Yang paling terkenal adalah Pantai Kuta. Selain itu ada Pantai Selong Belanak, Pantai Mawun, Tanjung Aan, dll.

Peta menuju Kuta

Pantai Mawun

Untuk menuju Pantai Mawun ini, dari pertigaan Pantai Kuta kita harus berbelok ke kanan. Kemudian menyusuri deretan penginapan dan rumah makan. Kata seorang teman, jalan ke pantai Mawun ini jeleknya minta ampun. Pikir saya, “Apaan? Bagus gini kok jalannya.” Tak lama kemudian kami bertemu pertigaan lagi. Jalan lurus adalah menuju Selong Belanak, sedangkan yang ke kiri menuju pantai Mawun. Dan di sinilah saya mendapati kenyataan bahwa perkataan teman saya itu benar. Jalannya bikin badan rontok saking jeleknya. Selain rusak dan berbatu-batu, jalannya naik turun melewati perbukitan. Untungnya di tengah perjalanan kami sempat dihibur oleh view pantai dari atas bukit.

View pantai di tengah perjalanan menuju Mawun

Tips untuk yang mau berkunjung ke Mawun : sebaiknya memakai sepeda motor. Tidak terbayang bagaimana susahnya mobil untuk melewati jalan tersebut.

Perjalanan sekitar 3 km serasa ditempuh berjam-jam. Namun setelah sampai di Pantai Mawun, perjalanan berat tadi terbayar lunas. Pantainya cantiiikk sekali. Sepi, berpasir putih halus, dan air bergradasi warna biru dan toska. Ombaknya memang agak besar. Pantai ini memang tidak untuk dibuat snorkling. Tetapi masih bisa dibuat berenang di pinggir-pinggir pantainya.

Di pantai ini kami leyeh-leyeh saja di pinggir pantai sambil minum degan yang dijual oleh orang setempat. Pantai ini memang cocok untuk bersantai dan doing nothing.

Pantai Kuta

Dari Pantai Mawun, kami kembali melewati jalanan yang menyiksa itu untuk sampai ke Pantai Kuta. Di sepanjang jalan pinggir pantai Kuta ini terdapat banyak penginapan dan tempat makan, mulai dari yang mahal hingga yang murah meriah. Sayangnya keadaan di daerah Pantai Kuta ini agak rawan pada saat malam hari. Sering terjadi penjambretan atau pemalakan di sini. Oleh karena itu tidak disarankan untuk bermalam di daerah pantai ini. Paling tidak sebelum gelap kita sudah harus keluar dari daerah tersebut.

Pantai Kuta ini tenang, namun di kejauhan terlihat ombak besar yang bergulung-gulung. tidak untuk dibuat berenang apalagi snorkling karena di pinggir pantai banyak terdapat batu karang. Pantai ini unik karena memiliki 2 jenis pasir, yaitu pasir putih yang halus seperti susu bubuk, dan pasir yang seperti merica.

Mas Hendra on action

Bukit Mandalika

Pasir merica

Ayik, mbak Wati, me

Dari Pantai Kuta, kami melanjutkan perjalanan ke arah timur menuju Tanjung Aan. Alhamdulillah jalannya bagus dan mulus. Di tengah perjalanan, kami istirahat sebentar untuk makan siang di sebuah warung yang letaknya di dekat bundaran menuju Novotel. Harganya murah banget! Rp. 5.000 sudah bisa makan dengan kenyang.

Tanjung Aan

Dengan bersepeda motor sekitar 10 menit, kami sampai di Tanjung Aan. Pantainya sepi, berpasir putih dan berair biru jernih.

Tak lama setelah kami datang, pedagang kaos dan kain khas Lombok satu persatu berdatangan menawarkan barang dagangannya pada kami. Awalnya kami menolak, tapi kemudian ada kaos dagangan yang menarik perhatian kami. Begitu kami memilih-milih kaos, datanglah beberapa pedagang lain yang mulai menyerbu kami dan ada beberapa yang memaksa untuk membeli dagangannya. Harga dagangan mereka cukup murah apabila dibandingkan dengan yang dijual di kota.

Diserbu para pedagang

Di sisi lain pantai, terdapat bukit yang dapat dinaiki untuk melihat keseluruhan view Tanjung Aan. Di bukit ini kami bertemu dengan Chris dan Jane, dua wisatawan asal Kanada. Mereka sempat berkunjung ke Bali, dan bilang lebih suka Lombok daripada Bali karena lebih sepi. Intinya, Lombok kereeenn!!

View Tanjung Aan dari atas bukit

View Tanjung Aan dari atas bukit

Ocha – Vivin

Bertemu Chris dan Jane

Dari Tanjung Aan, kami kembali  lagi ke daerah Kuta, lalu menuju Desa Sade, yaitu desa tradisional suku Sasak.

Desa Sade

Jika kita berangkat dari Mataram atau dari Bandara Internasional Lombok menuju Kuta, pasti akan melewati desa ini karena terletak di tepi jalan besar. Kami tidak terlalu lama berada di Desa Sade ini karena tujuannya memang hanya mencari oleh-oleh berupa kain songket. Ya, desa ini memang salah satu tempat berkumpulnya para pengrajin songket khas Lombok. Di sini kita dapat melihat ibu-ibu penduduk setempat yang sedang menenun kain.

Malam harinya; saya, Ayik, mbak Wati, La Kecha, Vivin dan Fathima; berkuliner di Mataram. Yang dimakan apalagi kalau bukan kuliner paling terkenal seantero Lombok; Ayam Taliwang. Ayam Taliwang adalah ayam bakar berbumbu khas dan terkenal pedas. Sebenarnya penjual Ayam Taliwang tersebar dimana-mana di Mataram. Namun yang kami coba kali ini adalah Ayam Taliwang Maju Jaya “Haji Mukhlis” di Cakranegara. Pelengkap ayam taliwang adalah pelecing kangkung dan beberuk. Pelecing kangkung adalah kangkung khas Lombok yang diatasnya diberi urap, kacang tanah, kecambah, dan sambal. Sedangkan beberuk adalah terong yang dipotong kecil-kecil dan diberi sambal. Sayang, sambalnya kurang pedas untuk ukuran lidah saya, dan bumbu ayamnya agak kurang mantab. Ayam Taliwang ini dihargai Rp. 30.000/ekor. Cukup mahal memang.

beberuk + pelecing kangkung + ayam taliwang

Selasa, 17 Juli 2012…

Pagi ini saya dan Ayik pamit dari rumah mbak Wati karena tidak enak jika menginap terlalu lama. Sebenarnya malam sebelumnya kami sudah berencana berpamitan, namun dicegah oleh orang tua mbak Wati. Mereka ingin kami menginap semalam lagi. Ibu mbak Wati bahkan sampai menangis saat tau bahwa kami berencana pamit *mewek*. Untuk menghormati orang tua mbak Wati, akhirnya kami baru bisa berpamitan hari ini. Setelah itu kami berdua menuju Oka Homestay untuk menaruh barang, kemudian melanjutkan perjalanan ke Gili Trawangan.

Gili Trawangan yang terletak di Kab. Lombok Utara ini dapat dicapai melalui pelabuhan Bangsal di Kecamatan Pemenang. Untuk mencapai pelabuhan Bangsal, dari Mataram ada dua jalur yang bisa digunakan; yaitu melalui hutan kera Pusuk, atau melalui pantai Senggigi. Jalur Pusuk lebih dekat. Jalur Senggigi lebih jauh namun viewnya lebih indah karena melewati pantai-pantai.

Peta menuju pelabuhan Bangsal

Pagi itu kami memilih melewati jalur Pusuk untuk menuju Bangsal. Jalur ini hanya cukup untuk dua mobil, dan lumayan membuat stress karena jalannya naik turun melewati perbukitan, dilengkapi dengan kelokan-kelokan tajam. Untungnya jalannya beraspal mulus, dan kami cukup terhibur oleh kelakuan monyet-monyet yang nongkrong di pinggir jalan.

Pelabuhan Bangsal

Setelah bersepeda motor selama +1 jam, akhirnya saya dan Ayik tiba di pelabuhan. Di sini banyak terdapat penitipan motor dan melayani parkir inap. Setelah memarkir motor, kami segera membeli tiket kapal di kantor pelabuhan. Sebenarnya kami ingin island hopping ketiga Gili Tramena (Trawangan, Meno, Air) ini. Namun island hopping ada jadwalnya tersendiri, dan waktu kami tidak cukup untuk mengunjungi ketiganya karena kami tidak menginap di salah satu Gili ini. Akhirnya kami hanya membeli tiket public boat ke Gili Trawangan seharga Rp. 10.000 dan membayar retribusi sebesar Rp. 2.500.

Tempat membeli tiket di pelabuhan Bangsal

Pelabuhan Bangsal

Karena memakai public boat, kami harus menunggu kapalnya penuh hingga 25 penumpang. Kapal tidak akan jalan apabila penumpang belum penuh. Karena tujuan Gili Trawangan adalah yang paling populer, maka kami tidak perlu menunggu terlalu lama untuk bisa naik ke kapal. Di kapal kami, selain pengunjung lokal dan pekerja setempat, banyak juga terlihat wisatawan asing yang rata-rata memanggul backpack berukuran besar.

Gili Trawangan

Setelah diombang-ambingkan ombak selama sekitar 45 menit, tibalah kami di Gili Trawangan. Ombak laut menuju Gili ini memang lumayan besar ternyata.

Welcome to Gili Trawangan

Kapal-kapal di Gili Trawangan

Kata orang, belum ke Lombok jika belum ke Gili Trawangan. Salah satu ikon pariwisata Lombok ini memang unik karena Gili ini ‘dikuasai’ oleh wisatawan asing. Perbandingan wisatawan asing dengan orang lokal kemungkinan 80:20. Sangking banyaknya wisatawan asing, kita yang penduduk lokal malah seperti merasa turis dari negara lain di negara sendiri.

Untuk mengelilingi Gili ini bisa dengan bersepeda, naik cidomo, atau berjalan kaki. Di dekat dermaga Gili Trawangan terdapat persewaan sepeda yang mematok harga Rp. 15.000/jam dan Rp. 50.000/hari. Kami memilih untuk sewa per hari karena jatuhnya lebih murah. Tapi saya sarankan untuk berjalan kaki saja mengelilingi Gili ini. Di dekat dermaga, jalannya memang terbuat dari pasir yang padat, namun di bagian lain masih banyak yang terdiri dari pasir gembur yang tidak bisa dilewati sepeda. Akhirnya kami terpaksa harus naik turun dari sepeda. Mengayuh sepeda apabila pasirnya agak padat, turun dari sepeda dan menentengnya apabila melewati pasir yang gembur. Melelahkan. Apalagi Gili Trawangan ini cukup besar.

Bersepeda di Gili Trawangan

Jangan khawatir kekurangan fasilitas di Gili ini karena sudah super lengkap! Banyak sekali penginapan dan tempat makan mulai dari yang mahal hingga yang murah meriah. Cafe serta bar juga banyak berjejer di pinggir pantai. ATM, kios oleh-oleh, dive centre, mushola, kamar mandi umum, serta tour agent juga terdapat di Gili Trawangan ini. Banyaknya fasilitas dan wisatawan membuat Gili ini agak sumpek menurut saya.

Banyak pengunjung tidak berarti pantainya jelek dan kotor. Pasirnya putih, dengan air laut bergradasi biru muda dan biru tua. Pemandangan bule-bule yang sedang berjemur di pinggir pantai membuat saya serasa ada di Miami, bukan di Indonesia.

Ini di Indonesia??

Gak mau kalah sama bule

Oya, kami juga sempat mencoba salah satu warung lokal yang ada di Gili Trawangan ini. Namanya Warung Bu Dewi. Letaknya tidak jauh dari dermaga, tapi masih masuk ke dalam gang. Di situ kami memesan nasi campur seharga Rp. 12.000. Harga yang cukup murah untuk ukuran Gili Trawangan. Rasanya juga lumayan.

Warung Bu Dewi

Nasi campur

Pukul 15.00 waktu setempat, kami memutuskan untuk kembali ke pelabuhan Bangsal. Apabila tidak menginap di Gili Trawangan, sebaiknya kembali sebelum pukul 17.00, karena kantor pelabuhan Gili Trawangan tutup pada waktu tersebut. Di atas pukul 17.00, kita harus mencarter kapal sendiri untuk kembali ke Bangsal. Tentu saja harganya mahal.

Dari pelabuhan Bangsal, kami menuju pantai Senggigi. Hari sebelumnya kami sudah janjian dengan mbak Wati, mas Duta, mas Hendra, La Kecha, Vivin dan Fathima untuk bertemu di Senggigi. Perjalanan dari Bangsal menuju Senggigi ini tidak jauh berbeda dengan jalur Pusuk; jalan yang berkelok-kelok tajam dan naik turun bukit, namun dengan view yang lebih indah. View Gili Tramena bisa dilihat dari jalur ini.

Bukit Nipah

Di tengah perjalanan, ada jalan yang agak menjorok ke luar dan beberapa mobil terparkir di situ. Kami kira itu bukit Malimbu, bukit yang terkenal dengan pemandangan pantai Senggigi dan sunsetnya; namun bukit itu ternyata bernama Bukit Nipah. Dari percakapan dengan pak tukang parkir, bukit Nipah ini lebih bagus dari bukit Malimbu karena pemandangan pantai Nipah nya. Orang-orang banyak menyebut bukit Nipah ini dengan bukit Malimbu II.

View pantai Nipah dari bukit Nipah

Dan memang pemandangan dari bukit Nipah ini baguuuss sekali. Subhanallah. Bukit ini resmi jadi salah satu tempat favorit saya di Lombok. Di sini kami bertemu teman baru dari Korea Selatan bernama Namil Jang. Dia bertanya, “Do you know K-Pop? Do you know Shinee?”. Yaelah… -___-

Meet Namil Jang from South Korea

Pantai Senggigi

Dari bukit Nipah, kami harus menempuh perjalanan 10 km lagi untuk mencapai pantai Senggigi. Di jalan raya Senggigi ini berderet banyak hotel, homestay, cafe dan restoran. Aktifitas yang bisa dilakukan di pantai Senggigi salah satunya adalah bermain kano. Pantainya sih biasa saja. Sambil bermain kano, kami menunggu senja di pantai ini. Karena terletak di bagian Barat pulau Lombok, Senggigi sering dijadikan tempat untuk melihat sunset.

Bermain kano

Sunset di Senggigi

Melompati matahari

Malam harinya kami kembali berwisata kuliner. Sasaran kali ini adalah nasi Puyung. Sebelum ke Lombok saya sudah ngidam makan nasi ini karena rasanya yang katanya pedas sekali. Maklum, saya penggila makanan pedas. Nasi Puyung ini hanya terdiri dari nasi putih, kedelai goreng, dan suwiran ayam yang dimasak dengan bumbu pedas. Setelah mencoba, saya kecewa karena rasa pedasnya belum mampu memuaskan lidah saya (padahal teman-teman lain sudah garuk-garuk kepedasan).

Nasi Puyung

Karena tanggal 16 Juli kemarin Ayik berulang tahun, kami bermaksud memberi surprise dengan membelikan kue tart untuknya. Mas Duta datang dengan kue tart coklat yang sudah dihiasi lilin. Sayangnya Ayik ini kok tidak terlihat terharu ya dikasih surprise begitu… *getok Ayik*

Merayakan ulang tahun Ayik

Besok pagi-pagi sekali saya dan Ayik sudah harus kembali ke Surabaya. Begitupun dengan Ocha dan Vivin yang harus kembali ke Yogyakarta. Jadi malam ini adalah malam terakhir kami di Lombok, dan harus berpisah dengan teman-teman di Lombok yang baik-baik ini. Hiks, sedihnya…

Meskipun harus berpisah, tapi perjalanan di Lombok ini akan selalu menjadi kenangan manis bagi kami. Bertemu sahabat baru yang baik. Pantai-pantai nya yang sepi dan cantik. Langit senja yang indah. Jalanan Lombok yang beraspal mulus dan tidak ada macet. Penduduknya yang sopan dan memegang teguh agama. Bahkan di Gili Trawangan yang notabene pulaunya wisatawan asing, kami masih bisa mendengar suara adzan berkumandang. Subhanallah…

Sebenarnya saya masih belum ingin pulang karena masih banyak pantai-pantai cantik lain di Lombok yang belum dijelajahi. Tapi tunggu saja, anak Sidoarjo ini akan kembali mengunjungimu suatu saat nanti! See u later, Lombok. Terima kasih untuk 3 hari yang menyenangkan… :)

Paket trip Lombok 3 hari 2 malam murah bareng Berangan Trip. Cek detailnya di http://wp.me/p3FEJm-7w

33 thoughts on “Lombok Bukan Cabe, deh… (Part 2)

  1. halo, salam kenal. mau nanya2 ya..boleh? rencana tgl 13-15 nanti saya dkk ber-11 mau ke lombok. lagi cari2 penginapan di gili trawangan, kira2 memungkinkan g untuk kami berada di penginapan yg sama? untuk penginapan harus booking dulu atau on the spot aja ya? mungkin ada rekomendasi penginapan di trawangan?

    makasi,
    Farah

  2. Kompleeet!!! Informasi dan ceritanya saling mendukung satu sama lain. Foto-fotonya apalagi. Apik nian!
    Oya, sebenarnya menginap di kawasan Kute, aman kok. Justru karena sedang dipoles jadi kayak Senggigi, maka berjamuran penginapan dan fasilitas pendukung lainnya. Yang tidak aman kalau keluyuran malam hari di kisaran Kute karena jalanan yang cenderung sepi, juga penerangan jalan yang belum maksimal.
    Jadi, kalau ke Kute, kiranya pas pagi sampai sore hari.

    • Waduh, dipuji sama yang punya Lombok *tersapu-sapu malu*
      Iya, kalo nginep di daerah Kuta, jangan keluyuran malam hari. Jadi anak baik aja di dalam kamar penginapan :D

  3. oh iya g nginep ya di trawangan. ntan, di gili sudak rate peminjaman alat snorkling berapa ya?

  4. Lhoo .. Mbak Intan ini anak sidoarjo?
    sidoarjo mana??
    baru tau setelah baca blog ampe selesai hahahha..
    ak jg rencana kelombok ntar oktober mbak, fb nya apa yah biar bisa nanya2 :D

  5. eitts.. hampir lupa..
    blog nya kerenn.. foto2 nya ampunnn dehh!
    kapan2 trip bareng yokk

  6. Salam kenal Inchan not Intan (nama emailnya lucu)
    Krn lg kangen ama Lombok (khususnya G Rinjani), jd kesasar disini
    Keren buat journeynya, penuh dgn info & foto menarik
    Bikin org ingin berkunjung ke Lombok bukan cabe deh…

  7. Hai Intan, mau tanya itu fotonya asli murni atau di edit begitu, lautnya subhanallah indah bgt :’)

      • Thanks Intan atas sharing dan response-nya, Insya Allah aku mau ke Lombok tahun depan, backpacker-an sama istri dan anak. baca cerita2 pengalaman orang-orang jadi nggak sabar mau ke sana :)

  8. Hello, mau tanya , dengan sepeda motor apakah motornya bisa dengan mudah dibawa kelokasi pantai-pantai tersebut?

  9. Suka suka… hehe… Bisa aku jadi panduan tambahan buat Lombok minggu depan nih, sis.
    Detil banget liputan perjalanannya… Omong-omong suka banget makanan pedas yah? Makan kripik Maicih bisa level 10 kah atau masih kurang? :p

    • Terima kasih sudah mampir dan baca, mas. Semoga perjalanannya di Lombok menyenangkan :D
      Iyee..suka banget! Maicih level 10 udah cukup pedes sih, meskipun masih kuat makan yang lebih pedes lagi. Haha…

  10. salam kenal Mbak Intan. saya blh dishare info nama desa tmpt penyeberangan ke gili nanggu gak? kebetulan saya hanya b-2 temen jd kl harga yg lbh miring, membantu sekali. thanks ya mbak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s