Berkunjung ke Rumah Si Naga Komodo

Sejak dinobatkan menjadi  “New 7 Wonders of Nature”, Taman Nasional Komodo menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia. Banyak wisatawan asing maupun lokal yang berbondong-bondong datang untuk bertemu kadal besar langka yang hanya dapat ditemukan di Taman Nasional Komodo. Rasa penasaran saya terhadap si maskot SEA Games 2011 itu pun akhirnya terbayar di tahun 2012 ini.

Taman Nasional Komodo terletak di provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya di antara Pulau Flores dan Pulau Sumbawa. Kawasan Taman Nasional ini meliputi wilayah daratan dan lautan dengan beberapa pulau, antara lain Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, serta beberapa pulau kecil. Tempat penyeberangan terdekat menuju kawasan Taman Nasional Komodo adalah Labuan Bajo, kota pelabuhan yang terletak di sisi barat Pulau Flores.

Untuk mengunjungi Taman Nasional Komodo, wisatawan biasanya melakukan live on board selama 2 hari dengan tujuan utama Pulau Rinca dan Pulau Komodo. Namun jika tidak punya banyak waktu, bisa kok, melakukan one day trip ke Pulau Rinca. Harga sewa kapal untuk sailing trip ini bervariasi, tergantung fasilitas dan besar kapal. Sewa kapal kecil berkisar 2.5 juta untuk live on board selama 2 hari. Lalu, kemana saja tujuan selama 2 hari?

Pulau Rinca

Pulau ini berjarak 2 jam perjalanan laut dari Labuan Bajo. Di dermaga Loh Buaya, kami disambut 2 orang anak SMA dari Bima yang sedang kerja praktek di Taman Nasional Komodo. Mereka mengarahkan kami untuk langsung menuju ke kantor T.N. Komodo untuk membayar tiket masuk, retribusi, dan biaya ranger (pawang).

Loh Buaya

Dermaga Loh Buaya

Setelah itu seorang ranger menyuruh kami berkumpul untuk briefing sebelum melakukan trekking. Ranger kami, Pak Abdul Kadir, menjelaskan tentang 3 macam trek yang bisa kami pilih salah satunya. Ada short trek, medium trek, dan long trek. Karena kapten kapal hanya memberi kami waktu 2 jam berada di Pulau Rinca, akhirnya kami memilih medium trek sepanjang 2.5 km dengan waktu tempuh sekitar 1.5 jam.

Adventure is begin! Karena kami berada di alam liar dengan hewan-hewan yang berkeliaran bebas, kami harus selalu berjalan berkelompok. Jangan sekali-sekali meninggalkan rombongan dan tidak mematuhi perintah ranger. Tidak boleh merokok dan membuang sampah sembarangan. Jangan meletakkan tas selempang di belakang sehingga bergoyang-goyang saat kita berjalan, karena komodo akan mengira kita sedang mengiming-imingi mereka umpan.

Beruntungnya kami. Tidak jauh dari bangunan kantor T.N. Komodo, kami menemukan 6 ekor komodo yang sedang leyeh-leyeh di bawah bangunan dapur. Mereka berada di situ karena terpancing bau masakan dari dalam dapur. Setelah bertemu langsung, komodo-komodo ini ternyata tidak begitu menyeramkan kok. Mungkin karena yang kami temui ini ukurannya tidak terlalu besar. Saat itu ranger menyuruh kami untuk mengambil foto sebanyak-banyaknya, mumpung bertemu Komodo. Tapi ingat, jangan sampai kita terlalu excited hingga berada terlalu dekat dengan komodo.

Komodo di bawah dapur

Karena di alam liar, kita tidak selalu beruntung bisa bertemu komodo. Namun selama trekking kami termasuk beruntung karena bertemu beberapa komodo, berikut sarangnya. Rupanya bulan September adalah waktu bagi para komodo betina untuk bertelur. Komodo betina akan menyimpan telurnya di dalam sarang selama 8-9 bulan, dan berjaga tak jauh dari sarang.

Sarang telur komodo

Hayoo di mana komodonya?

Setelah mencapai setengah perjalanan, kami naik ke atas bukit. Dari atas bukit ini kami bisa melihat laut dan pemandangan perbukitan di Pulau Rinca. Beautiful!

Pink Beach

Pantai berpasir pink ini terletak di Pulau Komodo, dengan waktu tempuh sekitar 2 jam dari Loh Buaya.  Sesampainya di Pink Beach, kapal tidak dapat merapat ke pantai karena takut merusak terumbu karang. Kapal pun tidak diijinkan membuang jangkar di perairan Pink Beach. Jadi, kapal hanya ditambatkan pada mooring buoy yang disediakan di lepas pantai. Dari kapal, kami harus berenang ke arah pantai. Bagi yang malas berenang, ada penduduk asli Pulau Komodo yang bersedia mengantarkan turis dari kapal menuju pantai dengan menggunakan sampan. Biayanya Rp. 10.000 PP.

Begitu nyebur ke laut dan mencelupkan kepala ke air, saya langsung terpesona akan keindahan underwater-nya. Oh, soo amazing! Terumbu karangnya sangat banyak dan berwarna-warni. Sayang ikannya tidak terlalu banyak karena saat itu air laut sedang surut. Apabila air laut sedang pasang, bukan main banyaknya ikan berwarna-warni hilir mudik di dalam perairan Pink Beach. Buat saya, underwater Pink beach ini adalah underwater terbaik yang pernah saya lihat!

(taken by Setiawati)

(taken by Setiawati)

Bagus underwater-nya, unik pula pantainya. Warna pink pasir pantai ini berasal dari serpihan pecahan karang berwarna merah yang tersebar di pantai. Saat terkena air, barulah warna pinknya terlihat. Pantai ini pun sepi, karena tidak ada bangunan apa-apa di atasnya.

Pulau Kalong

Pulau Kalong terletak bersebelahan dengan Pulau Komodo, ditempuh dalam waktu + 15 menit dari Pink Beach. Dinamakan Pulau Kalong karena biasanya saat senja tiba, ratusan kalong akan beterbangan keluar dari balik bukit di pulau ini. Sayangnya saat itu kami tidak beruntung karena tidak bisa melihat pemandangan tersebut.

Di perairan pulau ini lah kami akan menghabiskan malam dengan menginap di atas kapal. Kapal tidak merapat ke dermaga, hanya melepaskan jangkar di lepas laut. Saat berhenti di perairan pulau ini, kapal kami sempat dihampiri oleh beberapa penduduk Pulau Komodo yang bersampan menuju kapal kami untuk menjual souvenir seperti patung Komodo dan kalung mutiara.

Penduduk Komodo yang menjual suvenir

IMG_0977

Sunrise di TN Komodo

Pulau Komodo

Dermaga Loh Liang di Pulau Komodo ini jaraknya sekitar 30 menit dari perairan Pulau Kalong tempat kami bermalam. Di pulau ini, kami sudah tidak perlu membayar tiket masuk dan retribusi karena cukup dibayar sekali saat di Pulau Rinca. Untuk ranger, kami tetap perlu membayar lagi sebesar Rp. 50.000,00.

Welcome to Komodo National Park

Welcome to Komodo National Park

Dermaga Loh Liang

Dermaga Loh Liang

Bersama ranger yang bernama Pak Jeki, kami melakukan medium trek sejauh 2 km. Tak lama berjalan kaki, kami bertemu dengan seekor komodo yang ukurannya lebih besar daripada yang ada di Pulau Rinca. “Ini baru namanya komodo!”, batin saya. Komodo di Pulau Komodo ini memang katanya ukurannya lebih besar daripada yang ada di Pulau Rinca, namun agak susah ditemui. Tapi sudah merupakan hal biasa bahwa di bawah bangunan dapur selalu dengan mudahnya dapat ditemui beberapa komodo yang terpancing bau masakan dari dalam dapur.

The big Komodo

The big Komodo

Komodo berkumpul di bawah dapur

Komodo berkumpul di bawah dapur

Komodonya lagi kawiinn :">

Komodonya lagi kawiinn :”>

Setengah perjalanan, kami naik ke atas bukit yang bernama Sulphurea Hills. Dari bukit ini kami dapat melihat pemandangan pantai di Loh Liang dan perbukitan di Pulau Komodo. Sungguh indah.

Sulphurea Hills (taken by Setiawati)

Di Loh Liang, selain kantor Taman Nasional dan penginapan, ada juga beberapa stan suvenir buatan penduduk asli kampung Komodo. Sayangnya harga suvenirnya terlalu mahal bagi backpacker dengan kantong pas-pasan macam saya. Misalnya gantungan kunci yang dihargai Rp. 50.000,00/buah.

Manta Point

Manta Point adalah tempat dimana kita dapat melihat manta ray, si ikan pari besar. Dari Loh Liang, kami menempuh + 1.5 jam perjalanan. Manta point ini arusnya agak kencang, jadi harus berhati-hati saat berenang. Sayang, kami saat itu sedang tidak beruntung karena tidak melihat si manta ray.

Kapal diver di manta Point

Kapal diver di manta Point

Pulau Bidadari

Perjalanan dari Manta point menuju Pulau Bidadari ditempuh selama + 2.5 jam. Lagi-lagi kapal tidak bisa sembarangan merapat ke tepi pantai Pulau Bidadari karena takut merusak terumbu karang di bawah lautnya. Pulau milik seorang berkewarganegaraan Inggris ini memiliki pantai yang indah dan perairan yang biru jernih. Underwater di Pulau Bidadari ini pun bisa dibilang lebih bagus daripada Pink Beach karena kekayaan jenis terumbu karang dan ikan-ikannya . Bahkan dari atas kapal pun kita sudah bisa melihat ikan-ikan yang berenang hilir mudik. Wonderful!

IMG_1130

DSC04207

DSC04238

Keindahan bawah laut Pulau Bidadari menjadi ending dari sailing trip ini. Menjelang senja, kapal kami kembali ke Labuan Bajo dengan menempuh perjalanan selama 30 menit. Waktunya mengakhiri perjalanan seru selama 2 hari ini. Dan yang paling saya tunggu-tunggu adalah…waktunya mandi air tawar! Horee!!!

Dan yang pasti, destinasi impian saya di 2012 ini sudah tercapai! Ihiy! :D

Yuk ikut trip ke TN Komodo bareng Berangan Trip! Cek detailnya di http://wp.me/p3FEJm-1L

Baca juga :

One thought on “Berkunjung ke Rumah Si Naga Komodo

  1. Hai intan, menarik banget nih ceritamu. Aku & temen2 ku sekitar 10 orang mau ke komodo akhir oktober ini Live On Boat dari Lombok. Kamu ada kontak penyewaan kapal atau trip organizer yang murah meriah? Atau kamu mau jadi trip organizer kami? Please contact me ya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s