Madakaripura, “Tempat Tinggal Terakhir” Mahapatih Gajah Mada

Sebenarnya saya tidak terlalu suka mengunjungi air terjun. Sudah belasan tahun sepertinya saya tidak melihat air terjun secara langsung. Jalan mencapai air terjun biasanya susah karena harus trekking naik turun bukit. Warna airnya tidak biru jernih. Pemandangannya hanya air yang turun dari atas tebing. Dingin pula. Jadi apa bagusnya sih air terjun?

Namun karena nama Madakaripura yang tersohor dan dari hasil browsing saya mendapati banyak dokumentasi menarik tentang air terjun ini, mau tidak mau saya tergiur juga. Lagipula lokasi air terjun ini tidak jauh dari kota tempat tinggal saya. Se”paket” pula dengan trip saya ke Gili Ketapang di Probolinggo (baca postingan Gili Ketapang Ini Sebenarnya Bagus, Tapi…).

Air terjun Madakaripura terletak di Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Probolinggo. Air terjun ini berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Madakaripura yang berarti “tempat tinggal terakhir” konon merupakan tempat semedi Mahapatih Gajah Mada sebelum beliau menghembuskan nafas terakhir. Di area parkir kawasan air terjun terdapat patung Mahapatih Gajah Mada yang sedang dalam posisi bersemedi.

Harga tiket masuk kawasan air terjun ini Rp. 2.500/orang. Di area parkirnya, ada beberapa warung makanan dan minuman, serta beberapa orang guide yang siap “menggaet” wisatawan. Fungsi guide ini sebenarnya adalah untuk membantu kami melewati trek sejauh 1 km menuju air terjun utama. Treknya memang agak susah karena menyeberangi aliran sungai dengan bebatuan besar dan licin yang menghadang, naik turun bukit, bahkan harus merayap pada bebatuan pinggiran tebing. Bagi saya yang keseimbangan tubuhnya agak kurang bagus, bapak-bapak guide ini sangat membantu sekali. Sebenarnya bisa saja tidak memakai guide, yang penting harus berhati-hati saat berjalan.

Mendekati air terjun utama, dapat dijumpai beberapa penduduk setempat yang menyewakan payung. Mereka berkata bahwa setelah ini kami pasti akan basah seperti kehujanan. Saya sih cuek saja, toh tas dan barang berharga sudah saya bungkus dengan tas kresek. Masalah tubuh kebasahan juga bukan masalah karena saya membawa baju ganti.

Ternyata benar saja, setelah melewati para penduduk yang menyewakan payung, kami melalui jalur tepat di bawah air terjun. Air terjun ini bukan air terjun utama. Ada sekitar 3 air terjun yang menjadi pintu gerbang menuju air terjun utama Madakaripura. Jadi, jika berkunjung ke Madakaripura jangan lupa membungkus tas dan barang bawaan dengan tas plastik atau rain cover. Bawa juga baju ganti karena kita sudah pasti akan kebasahan.

Setelah merayap-rayap di pinggiran tebing, sampailah kami di air terjun utama. Air terjun ini terletak di paling ujung, diapit oleh tebing-tebing tinggi. Aliran air terjun tersebut membentuk sebuah kolam di bawahnya. Kedalaman kolam dengan air berwarna hijau tosca tersebut sekitar 7 m.

Ketinggian air terjun Madakaripura ini sekitar 200 m. Berada di dasarnya membuat kita seolah-olah berada di dasar sebuah gelas yang sedang diisi air. Karena sudah sore dan keadaan tubuh yang basah, saya tidak terlalu betah berlama-lama di sana karena udaranya dingin sekali. Setelah puas menikmati keindahan air terjun utama Madakaripura, kami pun kembali pulang.

Bagi saya yang bukan pecinta air terjun, Madakaripura not bad lah.

Ikut trip ke Madakaripura bareng Berangan Trip yuk! Cek detailnya di http://wp.me/p3FEJm-76

2 thoughts on “Madakaripura, “Tempat Tinggal Terakhir” Mahapatih Gajah Mada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s