Mulai Dari Telaga Hingga Candi, Semua Ada di Dieng!

Siang itu mendung menggelayut di kawasan dataran tinggi Dieng. Tak lama kemudian, langit pun menangis mengeluarkan rintik-rintik airnya. Seorang bapak di depan homestay berkata, “Kemarin-kemarin di sini panas dan cerah lho, mbak. Tumben ini hujan”. Mendengar perkataannya, saya berpikir, “Wah, jangan sampai hujan menggagalkan rencana-rencana kami”. Lantas saya segera meneriaki teman-teman yang lain untuk bergegas naik ke mobil sebelum hujan bertambah deras.

Homestay kami terletak di Jalan Raya Dieng, letak pusat kehidupan dan keramaian dataran tinggi Dieng. Dari situ, mobil kami melaju ke arah Telaga Warna, Kawah Sikidang, dan Candi Arjuna yang letaknya berdekatan. Hujan rintik-rintik setia menyertai perjalanan kami siang itu.

Suasana di sekitar Jalan Raya Dieng

Suasana di sekitar Jalan Raya Dieng

Telaga Warna
Telaga Warna berada dalam satu kompleks dengan beberapa objek wisata lain, yaitu Telaga Pengilon, Goa Semar, Goa Sumur, Goa Jaran, dan Dieng Theatre. Pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp. 6.000/orang. Dinamakan Telaga Warna karena pada saat-saat tertentu warnanya dapat berubah-ubah dari putih, hijau, toska, merah, hingga kuning. Telaga ini memiliki kandungan belerang, sehingga jangan coba-coba untuk berenang di dalamnya. Saat itu Telaga Warna tidak menunjukkan performa terbaiknya karena sedang surut akibat musim kemarau, ditambah mendung dan gerimis yang menghalangi sinar matahari.

IMG_0041IMG_0052IMG_0061

page

Di sebelah Telaga Warna, hanya dipisahkan oleh pepohonan, terdapat Telaga Pengilon. Suasana di sini lebih sepi karena wisatawan lebih tertarik berlama-lama di sekitar Telaga Warna. Dan memang Telaga Pengilon ini tidak begitu spesial, airnya pun butek.

Telaga Pengilon

Telaga Pengilon

Kawah Sikidang
Kawah Sikidang hanyalah satu dari banyak kawah di dataran tinggi Dieng. Kawah ini paling mudah dijangkau, sehingga menjadikannya yang paling terkenal di antara kawah-kawah yang lain. Asap belerang dari dalam kawah sudah tercium dari area parkiran. Tak heran banyak pedagang yang menjajakan masker untuk melindungi indera penciuman kita dari bau belerang.

Berhati-hatilah saat berjalan menuju kawah, karena di sekitar tempat ini terdapat banyak lubang yang mengeluarkan air panas bercampur belerang. Dalam perjalanan menuju kawah juga dapat dijumpai beberapa ibu-ibu pedagang bubuk belerang yang dipercaya berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit.

Berjalan kaki menuju kawah

Berjalan kaki menuju kawah

IMG_0106

Di depan Kawah Sikidang

Kompleks Candi Arjuna
Kompleks Candi Arjuna terdiri dari 5 candi, yaitu Candi Arjuna, Semar, Srikandi, Sembadra, dan Puntadewa. Masih ada candi-candi lain di sekitar kompleks candi ini, yaitu candi Bima, Candi Gatotkaca, dan Candi Dwarawati yang tak sempat terkunjungi akibat hujan yang bertambah deras.

IMG_2047

Kompleks Candi Arjuna

Siang beranjak sore, dan kemudian malam pun datang, namun rintik hujan masih setia menambah dinginnya udara Dieng. Dataran tinggi yang termasuk dalam Kabupaten Wonosobo ini mempunyai ketinggian rata-rata di atas 2.000 mdpl. Jadi jangan sekali-sekali lupa untuk memakai pakaian dan perlengkapan yang bisa melindungi tubuh dari serangan udara dingin. Mandi? Lupakan jika homestaymu tidak menyediakan air panas. Beruntungnya homestay kami memiliki fasilitas shower air panas, serta minuman panas berikut gorengan hangat yang disediakan gratis untuk menemani kami ngobrol.

– – – – –

“Banguunn..banguunn..!! Sudah setengah 3!!”, teriak saya keesokan paginya, sambil menggedor pintu kamar teman-teman. Saya ditugasi jadi alarm untuk membangunkan yang lain di pagi buta begitu demi melihat sunrise di puncak Bukit Sikunir. Setelah memakai perlengkapan tempur berupa baju berlapis-lapis, jaket tebal, syal, sarung tangan, dan kaos kaki; pukul 3 pagi kami keluar dari homestay, siap menuju Bukit Sikunir.

Begitu sampai di luar homestay, kami bengong, karena sepiii sekali. Sama sekali tidak terlihat aktivitas dan satu pun orang yang bersiap melihat sunrise seperti kami. Kami hanya bisa bertanya-tanya,”Ini kita yang kepagian atau orang-orang sudah pada berangkat ya?”. Untungnya tak lama kemudian ada satu pintu rumah yang terbuka, dan keluarlah seorang bapak. Dia melihat kami dengan heran dan bertanya,”Mau ngapain pagi buta begini, mbak?”. Saya menjawab,”Lihat sunrise, pak. Tapi di sini kok sepi sekali ya? Gak kelihatan ada orang-orang yang bersiap-siap”. “Ya memang biasanya orang-orang baru berangkat jam 4, mbak”, jawab bapak itu. O’o…ternyata kami sangat kepagian!

Karena sudah terlanjur siap, kami tetap melanjutkan perjalanan; dengan kecepatan mobil yang rendah, karena jalanan licin, gelap, ditambah kabut tebal yang menghalangi pandangan. Bapak tadi mengatakan bahwa Bukit Sikunir terletak di desa wisata Sembungan. Jalan ke sana tidak terlalu baik, sehingga kami harus berhati-hati saat berkendara. Setengah jam kemudian, sampailah kami di area parkir Bukit Sikunir.

Pukul 4 pagi, kami naik bukit, dibarengi beberapa orang mas-mas yang sebelumnya sudah pernah naik bukit tersebut. Perjalanan naiknya luar biasa! Melewati jalan setapak sempit yang lumayan terjal dan berbatu-batu. Bagi saya yang gak kuat dan gak doyan naik gunung, perjalanan setengah jam menaiki bukit ini sungguh amat sangat melelahkan. Untuk yang berencana naik Bukit Sikunir ini, disarankan bersama guide atau teman yang sudah berpengalaman. Jangan lupa membawa senter karena suasananya benar-benar gelap.

Sesampainya di atas bukit, langit di ufuk timur masih menunjukkan sedikit warna kemerahan. Sekitar pukul 5, barulah matahari mulai menampakkan diri sedikit demi sedikit, diikuti kabut yang mulai turun, membuat momen keluarnya matahari ini terasa sangat magical. Saat matahari keluar penuh dari balik Gunung Sindoro, saya ternganga saking indahnya momen tersebut. Mataharinya bulat, besar, dan kuning. Benar-benar “golden sunrise”!

IMG_0196

Matahari perlahan muncul dari balik Gunung Sindoro

IMG_0213

Golden sunrise

Berasa dimanaa gitu ya... :')

Berasa dimanaa gitu ya… :’)

IMG_2123

Kedinginan di puncak Bukit Sikunir

Saat menuruni Bukit Sikunir, kami baru sadar bahwa di sebelah jalan setapak tersebut adalah jurang. Salah langkah sedikit saja bisa menyebabkan kami terpeleset masuk ke jurang. Hiii… Pemandangan sebuah telaga yang bernama Telaga Cebong menyambut kami saat turun dari bukit. Telaga ini ternyata terletak bersebelahan dengan area parkir. Di sebelah area parkir ini juga terdapat lapangan rumput luas yang berfungsi sebagai bumi perkemahan.

Telaga Cebong

Telaga Cebong

Bumi perkemahan

Area parkir dan bumi perkemahan

Lompatan bumi perkemahan

Lompatan bumi perkemahan

Bukit Sikunir dan Telaga Cebong menjadi penutup perjalanan kami di dataran tinggi Dieng. Sebenarnya masih banyak objek wisata lain yang bisa dikunjungi, seperti Sumur Jalatunda, Museum Dieng Kailasa, Telaga Merdada, dan masih banyak lagi. Satu dataran tinggi dengan pemandangan alam yang indah dan banyak objek wisata, dimana lagi kalau bukan di Dieng, tempat tinggal para dewa dan dewi.

Tips :

1. Banyak homestay dan rumah makan di sekitar Jalan Raya Dieng. Saat long weekend, harga homestay rata-rata Rp. 150.000/kamar. Jangan menggunakan jasa “info penginapan gratis”, karena info itu tidak benar-benar gratis.

2. Banyak penduduk setempat yang menawarkan jasa guide. Jasa guide ke Bukit Sikunir harganya Rp. 100.000/guide. Apabila ditambah dengan meng-guide ke objek-objek wisata lain, harganya Rp. 150.000/guide.

3. Jangan lupa mencoba kuliner khas Wonosobo, yaitu mie ongklok dan tempe kemul.

15 thoughts on “Mulai Dari Telaga Hingga Candi, Semua Ada di Dieng!

  1. Boleh tahu foto-foto Telaga Warna di atas tepatnya dijepret kapan, mba? Saya ke sana pertengahan 2012 lalu. Melihat foto-foto di atas, sepertinya air danaunya menyusut dibanding waktu saya ke sana dulu.

  2. Jangan lupa mandi air hangat. Disumber yg muncul di kaki pegunungan dieng. Menyegarkan juga menyehatkan.

  3. Pingback: Pengalaman Ngetrip ke Dieng | Winny Alna Marlina

  4. Waktu itu pake homestay apa mbak ? Lokasinya ckup dekat dengan object wisata telaga warna dkk itu ga yah?

    Saya lagi nyari homestay budget yang bisa akses ke lokasi wisata dengan kaki (benar-benar) ransel mode abiis :)

    • Duh maaf banget. Ayu…saya lupa waktu itu pake homestay apa. Yang pasti waktu itu homestay saya ada di pusat “kota”nya Dieng. Banyak banget homestay berjejer di sana. Terus kayaknya enggak mungkin kalau dari situ jalan kaki ke objek-objek wisatanya, karena letaknya berjauhan, apalagi Bukit Sikunir. Eh tapi ya enggak apa juga sih kalau niatnya emang mau trekking :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s