Perjuangan Menuju Kawah Ijen

Yang namanya naik gunung itu selalu menyebalkan buat saya. Memang sih, sesampainya di puncak nanti kepuasannya tidak terkira. Tapi prosesnya itu lho, susah, menn! Capek. Berat bawa badan (salah sendiri gak pernah olahraga). Dingin. Barang bawaan dan pakaiannya ribet berlapis-lapis. Duh, rempong deh pokoknya.

Tapi beberapa hari sebelum ini, entah kenapa saya jadi kepikiran buat coba naik-naik ke puncak gunung. Dan entah kenapa, kepikiran buat ke Kawah Ijen sebagai permulaan. Memang sih, “cuma” Kawah Ijen yang ketinggiannya 2300-an mdpl, panjang jalur pendakiannya “hanya” 3 km, dan kata teman yang sudah biasa mendaki, “Difficulty level-nya easy kok, tan.” Keinginan ini kebetulan sejalan dengan rencana nge-trip-nya anak-anak Jember Backpacker. Berbekal niat dan hasil jogging selama 3 hari (dari niatan jogging selama 2 minggu, yang terlaksana cuma 3 hari, HAHAHA), berangkatlah saya dari Surabaya menuju meeting point di Jember.

Oya, teman-teman jalan kali ini berjumlah 20-an orang, dan hampir semua belum pernah saya temui (kecuali si Abhie). Ada mas Daniel si ketua rombongan, mbak Indah, mbak Yulia, Rice, Bhita, Maya, Riris, Qori, Yuda, Dini, Steve, dll dll. Saking banyaknya, sampe lupa namanya. But hey, I always love traveling with some new friends! :)

2/3 peserta, masih banyak yang gak ikut kefoto :p

2/3 peserta, masih banyak yang gak ikut kefoto :p

Singkat cerita, pukul 01.00 dini hari, saya dan teman-teman sudah berada di Paltuding, pintu gerbang utama pendakian menuju Kawah Ijen. Kami memang berencana mengejar momen Api Biru di Kawah Ijen, yang hanya bisa dilihat saat dini hari, atau sebelum matahari terbit. Kobaran api berwarna biru yang berasal dari sela-sela tambang belerang di Kawah Ijen ini adalah fenomena yang langka, dan hanya ada satu-satunya di Indonesia.

Pukul 01.45 kami memulai pendakian dengan berdoa bersama terlebih dahulu. Saat itu saya sudah mulai dihantui pikiran,”Kuat gak ya? Bisa gak ya?” Namun dengan tekad yang kuat, kami mulai mendaki. Sekitar 100 m pertama, fisik dan tekad masih oke, jalur pun masih belum terlalu menanjak. Namun beberapa menit kemudian, saat tanjakan semakin miring, tekad tetap oke, tapi fisik mulai kendor. Saya yang tadinya berada di tengah rombongan, mulai melorot ke barisan paling akhir.

Yeah, lintasan awal pendakian sejauh 2 km memang cukup berat karena sebagian besar jalurnya menanjak dengan kemiringan 25-35 derajat. Struktur tanahnya juga berpasir dan berkerikil, sehingga menambah semakin berat langkah kaki karena harus menahan berat badan agar tidak merosot ke belakang. Berkali-kali saya oleng ke kanan dan kiri, hampir terpeleset, dan tersandung bebatuan. Udara yang dingin sudah tidak begitu terasa karena berkeringat saat mendaki.

Mendaki terus tanpa beristirahat jelas tidak mungkin buat saya. Beberapa kali saya berhenti di tengah jalan, duduk di batang pohon yang ada di pinggir jalan sambil minum, bahkan hampir ngesot saking malesnya ngeliat tanjakan yang gak ada habisnya. Tapi karena tekad yang kuat dan berulang kali disemangati, jalan tetap harus lanjut! Secercah harapan sampai ke tujuan mulai terasa saat bangunan pos tempat penimbangan belerang terlihat. Di situ tertulis, “Batas Akhir Pendakian”. Dan jika sudah sampai di pos tersebut, berarti tersisa jarak 1 km lagi untuk mencapai kawah.

Seusai beristirahat sebentar di pos, kami berjalan lagi. Tulisan “Batas Akhir Pendakian” ternyata hanya pemberi harapan palsu, karena setelah pos itu tetap saja jalurnya menanjak. Dengan sempoyongan dan napas putus-putus saya berusaha tetap berjalan. Beberapa ratus meter kemudian, saya disalip oleh seorang bapak penambang belerang yang berkata,”Ayo mbak, di depan itu sudah tanjakan terakhir. Setelah itu landai.” Mendengar sebuah harapan dari bapak itu, semangat saya langsung terpompa, dan lantas berusaha mempercepat langkah. Setelah melalui tanjakan, ternyata jalurnya memang landai. Woohh…leganyaaa… Bahkan si Abhie berkata pada saya,”Ciee…sudah bisa senyum-senyum nih.” Ahihihi…

Sisa jalur berikutnya untuk menuju kawah sudah tidak berat sama sekali. Dan..finally…pukul 03.30 kami sudah sampai di puncak! Horee! 1.5 jam-an buat nyampe puncak, not bad lah yaa.. :p

Saat itu masih gelap, dan yang terlihat dari kawah hanyalah asap yang mengepul. Untuk melihat si api biru, ternyata memang harus menuruni tebing hingga ke pinggir kawah. Medannya berat karena terjal dan berbatu-batu. Kita harus sangat berhati-hati, karena gelap dan adanya bau belerang yang menyesakkan napas. Memakai masker dan membawa senter sendiri sangat wajib bila ingin turun ke kawah saat hari masih gelap.

Sambil menunggu matahari terbit, saya yang sudah kepayahan, menghabiskan waktu dengan tidur-tiduran di dalam tenda yang dibawa oleh mas Daniel. Sementara itu, beberapa teman yang lain turun hingga ke pinggir kawah untuk melihat si api biru. Sekitar pukul 05.00, matahari mulai beranjak keluar, namun pemandangan kawah masih tertutup oleh kabut dan kepulan asap. Pukul 06.00 barulah kabut yang menutupi kawah mulai tersingkir. Danau Kawah Ijen yang berwarna toska itu mulai menampakkan keindahannya.

Menjelang sunrise

Menjelang sunrise

Sun...rise (??)

Sun…rise (??)

Di puncak Ijen

Di puncak Ijen

IMG_0047

IMG_0050

IMG_0048

Sejam kemudian kabut mulai turun lagi, disertai bau belerang yang cukup mengganggu pernafasan. Saat itulah kami memutuskan untuk turun kembali ke Paltuding. Perjalanan turun kami dibarengi oleh bapak-bapak penambang belerang yang menggendong puluhan kilogram belerang di pundaknya. Dengan beban seberat itu, bapak-bapak tersebut bahkan berjalan lebih cepat daripada saya. Hebat!

Bapak penambang belerang

Bapak penambang belerang

Di pos penimbangan belerang

Di pos penimbangan belerang

Saat perjalanan turun di pagi hari itu, barulah terlihat jalur yang kami lalui saat hari masih gelap. Ternyata memang paling benar mendaki saat gelap dan lintasan tidak terlihat. Kalau mendaki saat matahari sudah terbit, pasti saya sudah males duluan ngeliat tanjakan-tanjakan tersebut. Hih.

IMG_0073

View pegunungan Ijen

IMG_0094

Jalur trekking (ini pas bagian landainya lho ya)

Akhirnya…Kawah Ijen sudah berhasil terlewati dengan bahagianya. Next, Ranu Kumbolo, maybe? :p

Ikut trip ke Kawah Ijen bareng Berangan Trip yuk! Cek detailnya di http://wp.me/p3FEJm-3D

19 thoughts on “Perjuangan Menuju Kawah Ijen

  1. penasaran sama ini –>> Kobaran api berwarna biru yang berasal dari sela-sela tambang belerang di Kawah Ijen ini adalah fenomena yang langka, dan hanya ada satu-satunya di Indonesia.
    gak ketemu yaa mba?

  2. ranu kumbolo buat pendaki yang jarang olahraga bisa double jarak tempuhnya, yang konon bisa 4 jam doang, tapi hasilnya jadi 8 jam :) pengalaman pribadi gw, sama pacar, trek terpanjang, “jalur naga”

    • Aduh, aku beramai2 menyewa elf dari Jember soalnya. Jadi enggak ngerti kalo naik kendaraan umum gimana.
      Terus pas di Ijennya cuma bayar tiket masuk, gak sampe 5 ribu/orang. Udah, gitu doank :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s