Tana Toraja : Land of the Death (2)

Pertama kali datang ke Toraja, saya sudah kepikiran pengen ngeliat patung-patung miniatur orang yang sudah meninggal. Yang disusun berjejer di dinding tebing batu itu lho. Patung-patung kayu kecil itu namanya Tao-Tao. Tao-Tao pertama yang saya lihat ada di Lemo. Lemo adalah kuburan yang dibuat di dinding sebuah tebing batu. Di dinding tebing batu itu, dibuat banyak lubang yang tiap lubangnya berupa kuburan untuk satu keluarga.

IMG_0109

Tiap lubang berukuran sekitar 3×5 m dan ditutup oleh pintu kayu. Yang saya enggak habis pikir, untuk memahat lubang-lubang di dinding batu ini pastinya enggak gampang dan membutuhkan waktu berbulan-bulan. Apalagi untuk menaikkan jenazah hingga ke dalam lubang yang tinggi itu kan pastinya butuh tenaga ekstra. Fiuh, mikirnya aja capek. Tapi masyarakat Toraja percaya bahwa semakin tinggi letak kuburan atau peti mati, maka semakin dekat pula perjalanan roh orang yang meninggal ini untuk menuju nirwana. Dan semakin tinggi letaknya, semakin tinggi pula derajat jenazah yang dikubur.

Tidak semua orang Toraja yang meninggal bisa dibuatkan Tao-Tao lho. Biasanya hanya yang bergelar bangsawan saja yang berhak dibuatkan. Dan semakin mirip Tao-Tao dengan orang yang meninggal, maka semakin mahal pula harganya, dan berarti semakin tinggi pula kedudukan orang tersebut. Jika Tao-Tao di Lemo wajahnya hampir mirip semua, maka Tao-Tao di Londa dibuat lebih detail dan lebih mirip dengan manusia.

Londa adalah pemakaman yang dibuat di dalam goa. Di depan goa, terdapat peti-peti mati yang digantung dan disusun sedemikian rupa, serta deretan Tao-Tao yang duduk manis. Untuk masuk ke dalam goa, lebih baik diantar oleh guide yang membawa lampu petromak. Enggak lucu kan kalo tersesat di dalam goa yang isinya peti mati dan tengkorak-tengkorak? Hiiyy…

IMG_0132

IMG_0140

Di dalam Londa, awalnya enggak kebayang bakal foto-foto di tempat gelap yang banyak peti matinya. Tapi si bapak guide ternyata sudah lihai sekali mengarahkan pengunjung untuk berfoto di spot mana. Mulai dari belakang cerukan yang berisi tengkorak, di bagian yang atap goanya rendah, hingga di sebelah dua tengkorak yang katanya dulunya sepasang kekasih yang enggak disetujui orang tuanya lalu kawin lari. Oh my…

IMG_4759

IMG_4763

Suasana di dalam Londa jelas mistisnya. Peti mati di mana-mana, tengkorak berserakan, gelap pula. Udah gitu si bapak guide nyuruh kami ngelewatin terowongan sempit selebar 60 cm yang tingginya hanya 1 m bahkan kurang. Ya jelas harus merangkak di tanah donk. Kata si bapak,”Meriam Bellina aja lewat sini.” Saya yang sudah menolak habis-habisan karena enggak siap berkotor-kotor ria, akhirnya terpaksa harus mengikuti kemauan teman-teman yang lain. Sambil ngedumel tentunya. Huh.

Oya, jangan sekali-sekali menyentuh atau memindahkan tengkorak-tengkorak di sana ya. Karena katanya untuk memindahkannya, butuh serangkaian prosesi adat yang sama mahalnya dengan saat pertama kali jenazah itu dikuburkan. Beuuhh… Ngebayangin butuh ratusan juta untuk memindahkan tengkorak itu kayaknya…super kebanyakan duit -___-

IMG_0229

IMG_0204

IMG_0213

Di pekuburan Toraja, tengkorak sih udah kayak pajangan di mana-mana. Begitu pula di Kete Kesu. Di desa wisata ini terdapat kuburan batu yang umurnya mencapai ratusan tahun. Kuburan-kuburan batu tersebut diletakkan mengantung di sisi tebing, dan hanya disangga oleh susunan bilah-bilah kayu. Di sekeliling kuburan, banyak sekali tengkorak dan tulang-tulang manusia yang berserakan.

Tao-Tao di Kete Kesu ini ditutup dengan jeruji besi. Katanya sih untuk menghindari pencurian. Ada juga Tao-Tao yang bukan miniatur lagi, melainkan setinggi orang aslinya. Ini yang meninggal sih sudah pasti kayanya enggak karu-karuan, karena bikin Tao-Tao segede itu pasti mahalnya kebangetan.

IMG_0249

Yang khas dari Kete Kesu adalah deretan Tongkonan beserta lumbung padi di hadapannya. Umur Tongkonan di sini katanya mencapai 300 tahun. Bisa dilihat dari dedaunan yang tumbuh di atapnya. Semakin tua, semakin banyak daun yang tumbuh. Salah satu Tongkonan di Kete Kesu dijadikan sebagai museum yang berisi koleksi benda adat kuno Toraja.

IMG_0172

Seperti yang sudah saya bilang, sehari di Tana Toraja itu enggak cukup. Apalagi kalau kamu pecinta adat dan budaya, jelas banyak sekali hal yang bisa dilihat. Mungkin bagi sebagian orang, Tana Toraja ini mistis, menyeramkan, dan lain-lain. Tapi bagi saya, di sana sangat menyenangkan karena unik, sejuk, dan alamnya pun indah :D

Ingin jelajah Toraja dan Sulawesi Selatan? Mari ikut trip Overland Sulawesi Selatan bareng Berangan Trip! Cek detailnya di http://wp.me/p3FEJm-je

Baca juga :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s