Akhirnya Mencoba Diving!

Berkali-kali melaut, saya sama sekali belum terpikir untuk belajar diving. Maklum, biaya ambil lisensinya cukup merogoh kocek. Dan saya sudah cukup bahagia hanya dengan snorkeling. Sampai akhirnya saya beli underwater housing, dan gatel untuk turun lebih dalam buat moto-motoin ikan yang unik-unik. Apalagi saya sering bergaul sama temen-temen yang doyan diving. Makin ngiler lah saat denger cerita mereka saat diving ketemu ini dan itu, apalagi liat foto-fotonya. Aargghh!

Underwater Selayar. Taken by Ricky D.

Underwater Selayar. Taken by Ricky D.

Niat kepengen bisa diving akhirnya tersalurkan saat kali kedua saya ke Selayar. Mumpung di sana ada temen yang bisa minjemin alat gratis. Di-guide gratis pula sama Bang Acca, dive guide yang baiknya tiada tara. Bahagianyaa… Saya sampai mundur-mundurin waktu pulang ke Surabaya demi diving perdana ini. Wess pokoke niat poll!

Sebelum diving, saya di-briefing dulu. Alhamdulillah enggak bego-bego banget sama jenis-jenis alat diving dan istilah-istilahnya karena sudah beberapa kali ngeliatin temen diving. Sedikit-sedikit ngerti lah. Saya diajarin cara pasang tabung ke BCD, cara nge-set BCD dan regulator, serta cara make pemberat. Untuk pemula, jumlah pemberat disesuaikan dengan berat badan, bahkan bisa lebih. Saya juga diajari cara pernapasan, kode saat diving, dan hal-hal yang enggak boleh dilakukan.

Setelah briefing, kami naik ke kapal menuju Setio Mardin, spot di utara Pasi Gusung Selayar dimana kami akan diving. Hingga tiba akhirnya saya harus nyebur ke laut. Sebelumnya komat-kamit berdoa dulu dan nenangin diri biar enggak panik. Pelan-pelan saya dan Bang Acca mulai menyelam. Sampai di kedalaman 2 meter, saya panik karena masker saya kemasukan air. Buru-buru saya menggoyangkan telapak tangan, kode saat terjadi masalah, dan minta untuk kembali ke permukaan.

Meskipun awalnya sudah nenangin diri, ternyata bolak-balik saya panik dan minta naik ke permukaan. Karena masker kemasukan air, kesusahan mask clearing, karena telinga sakit, dan kesusahan equalizing. Memang masalah untuk pemula selain kepanikan adalah saat equalizing, dan tentunya mengatur buoyancy. Bang Acca sampe ngeluarin peraturan, “Tiap nabrak, matahin, atau ngerusakin koral, dendanya 5 ribu!” Beuhhh…

Di awal, kami stop di kedalaman 3 meter untuk buoyancy test. Saya di-tes berdiri di atas fin dan berdiri memakai lutut. Bisa sih, meskipun masih goyang-goyang karena buoyancy yang kacau. Selanjutnya Bang Acca menyuruh saya berposisi netral, dan kemudian kami berenang mengikuti arus. Berkali-kali saya hampir nabrak koral, untungnya Bang Acca yang sigap mengatur buoyancy saya.

Buoyancy test, berdiri memakai lutut

Buoyancy test, berdiri memakai lutut

Buoyancy test

Buoyancy test

Menurut Bang Acca, di tahap discovery diving biasanya maksimal hanya sampai ke kedalaman 8 meter. Saat itu saya sudah enggak tau sampai ke kedalaman berapa saya menyelam. Yang pasti, diving itu menyenangkan, meskipun saat itu saya enggak terlalu menikmati pemandangan bawah lautnya karena sibuk ngatur buoyancy. Maklum, masih penyesuaian diri. Berulang kali Bang Acca memberi kode telunjuk dan jempol membentuk huruf ‘O’ untuk memastikan saya baik-baik saja.

Visibility-nya rendah dan berpasir. Makanya butek gini :))

Visibility-nya rendah dan berpasir. Makanya butek gini :))

Koral di belakang itu enggak sengaja saya patahin :p

Koral di belakang itu enggak sengaja saya patahin :(

Setelah foto-foto cantik di bawah laut (yang hasilnya enggak cantik karena butek), Bang Acca mengajak saya untuk naik ke permukaan. “Yahh, cepet amat. Masih pingin lanjut nih, bang,” kata saya dalam hati. Sesampainya di permukaan air, entah kenapa saya merasa mual. Entah karena goyangan air, atau karena beratnya alat yang enggak biasa saya pakai, yang pasti sejurus kemudian saya muntah. Blah! Padahal saya enggak gampang mabuk laut. Kalau menurut Bang Acca sih karena gas dalam tabung yang kami pakai agak berbau dan terasa enggak enak.

Rupanya diving memang bikin lupa waktu, karena ternyata kami menyelam sudah sekitar setengah jam. Asli, berasanya cuma 15 menit. Daan…gas di tabung saya masih sisa banyak donk! Gas dalam tabung yang awalnya 200, tersisa 150. Sedangkan punya Bang Acca tersisa hanya 110. Gila, irit napas banget saya! Dan ternyata itulah alasan berulang kali Bang Acca ngasih kode untuk menanyakan apakah saya baik-baik saja. Soalnya dia kebingungan kenapa saya jarang banget ngeluarin gelembung-gelembung udara. “Ni anak napas gak sih?” Gitu kali ya pikirannya. Haha!

“Kalau saya hitung, denda kamu 25 ribu, tan,” kata Bang Acca. Yaahh…berarti saya matahin karang 5 kali donk! Dan ternyata kami menyelam cuma sampai kedalaman 5 meter. Padahal saya ngarepnya bisa lebih dalem lagi sih. Hihi. Yang pasti diving itu menyenangkan. Panik di awalnya, tapi setelah itu bakal bikin lupa daratan. Yang pasti, kalau mau diving kudu bisa berenang dulu ya.

Akhirnyaaa saya diving!! *norak*

6 thoughts on “Akhirnya Mencoba Diving!

  1. salam kenal mbak, saya traveler seperti mbaknya jugaa :) kesana kira kira butuh budget berapa mbak ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s