Menyapa Tanjung Bira

Datang ke tempat wisata saat sedang low season ada enak dan ada enggak enaknya. Jadi, waktu saya ke Tanjung Bira, di sana sedang low season. Weekday pula. Enaknya? Sepi cuy! Saya dan Adam, teman asal Jakarta yang baru aja ketemu di Makassar, jadi satu-satunya tamu di penginapan. Padahal penginapan kami, Salassa Guest House, itu salah satu penginapan paling populer di kawasan Tanjung Bira lho. Nih, saya sampe bisa ongkang-ongkang kaki di restorannya saking sepinya. Like a boss! *plis jangan ditiru, ini gak sopan* :))

DSC_0207

Pas jalan dari pelabuhan menuju penginapan aja, kami yang niatnya mau hitchhike karena males jalan jauh bawa backpack gede, enggak dapat tumpangan saking enggak adanya kendaraan yang lewat dan menuju Tanjung Bira. Karena sepi pula, kami enggak perlu gontok-gontokan sama banyak orang pas main di pantainya *lebay*. Eh, tapi kan Tanjung Bira sudah populer ya, pasti waktu high season dan weekend rame banget deh.

Tapi saking sepinya, kami berdua agak mati gaya. Niatnya pengen ngobrol-ngobrol sama sesama tamu penginapan, tapi enggak kunjung ada yang datang. Mau nyari teman sharing cost kapal untuk ke Pulau Liukang Loe juga enggak nemu. Kayaknya waktu itu cuma kami deh wisatawan lokalnya. Bule ada sih beberapa seliweran. Itu pun sedikit.

IMG_0649

Kami juga sempat jadi bahan rebutan bapak-bapak tukang kapal di Tanjung Bira. Maklum sepi. Jadi ya gitu deh, rebutan pelanggan.

Bapak A : Mbak, sama saya aja. Harga segini sudah termasuk ini, ini, ini, bla bla bla…

Saya : Enggak ah, pak. Bapak bukan tipe saya *lhah*

Bapak B : Sama saya aja, mbak. Karena lagi sepi, saya kasih murah deh.

Saya : Ih, bapak murahan *minta dikeplak*

Bapak A : Jangan mau sama si B itu, mbak. Dia calo.

Bapak B : Lho, tadi mbaknya sudah mau sama saya kok. Jangan gitu kamu.

Bapak A : Namanya juga usaha. Masalah buat loe??

Bapak B : Eeh…berani loe yaa??! *siap berantem*

Saya : Waduh, sabar yaa, bapak-bapak. Saya istikharah dulu. Besok saya kabari *lalu kabur*

* * * * *

Tanjung Bira yang terletak di Kab. Bulukumba SulSel ini terkenal karena pasirnya. Kalau orang-orang bilang Pantai Tanjung Bira punya pasir sehalus bedak, itu enggak bohong. Pasirnya memang haluuuss banget! Apalagi pas kena air, jalan di pasirnya serasa memantul-mantul gitu. Enak dibuat loncat-loncatan. Tapi kalau suasana pantainya sih, saya enggak ada kesan spesial. Biasa aja. Sudah ramai warung-warung berjejer pula. Saya kan doyannya pantai yang bener-bener masih sepi.

IMG_0643

IMG_0642

Tapi bisa jadi karena saya datang di waktu dan musim yang kurang tepat, sehingga Tanjung Bira enggak menunjukkan performa terbaiknya. Padahal saat itu sudah di penghujung bulan Mei, tapi masih saja sering mendung dan terkadang hujan. Untuk lihat view Tanjung Bira yang sering ada di foto-foto itu, kita harus berjalan masuk ke dalam area cottage yang enggak terawat. Sayang banget, padahal cottage ini punya the best view lho.

IMG_0664

IMG_0690

* * * * *

“Kak, aku jadi pulang pagi ini, habis sarapan. Takut ketinggalan pesawat. Jadi gak bisa ikut snorkeling…”, kata Adam kepada saya.

“Appaaahh??! Kamu tega, Dam, ninggalin aku sendirian!”

“Maaf, kak…”

“Gak mau tau! Bayarin penginapannya!!”

“………”

Jadilah hari ini saya benar-benar sendirian dan semakin mati gaya karena si Adam balik duluan ke Makassar. Daripada enggak tau mau ngapain, akhirnya saya memutuskan untuk jadi snorkeling ke Pulau Liukang Loe. Keputusan yang berat. Berat di kantong karena enggak ada teman sharing cost kapal. Lumayan juga 200 ribu ditanggung sendiri. Hiks.

Perjalanan dari Bira menuju Liukang Loe memakan waktu sekitar 15 menit. Oleh bapak tukang kapal, saya diantar ke dua spot snorkeling yang yaa…standard lah, tapi lumayan untuk snorkeling-snorkeling cantik. Waktu itu saya snorkeling cuma sebentar karena enggak konsen akibat ombak gede dan agak kurang fit, yang akhirnya malah mabuk laut. Payah.

“Pak, saya enggak kuat, pak,” kata saya kepada pak tukang kapal.

“Lambaikan tangan ke kamera kalo gak kuat, mbak.”

“…..….”

Akhirnya kami melipir ke Pulau Liukang Loe. Pulau ini berpenghuni dan punya pantai berpasir putih. Bagus. Dan ada penginapannya lho. Tapi saya enggak punya banyak kesan di sini karena saya harus buru-buru balik ke Bira dan ngejar kapal ke Selayar.

IMG_0725

IMG_0740

Jadi yaa…untuk kali ini Tanjung Bira dan Liukang Loe cukup disapa aja lah, enggak saya pedekate-in, apalagi sampai diajak pacaran *apa cobak*. Mungkin lain kali ketika saya datang di musim yang tepat dan dengan waktu yang lebih lama, Tanjung Bira bisa bikin saya jadi jatuh cinta. Apalagi saya belum ke Tana Beru (tempat pembuatan kapal phinisi), Pantai Bara, dan Suku Kajang, yang kesemuanya ada di Bulukumba. Next time!

Note : kalau mau ke Tanjung Bira, mending naik bus tujuan Selayar yang berangkat jam 9 dari Terminal Malengkeri Makassar. Ntar turun aja di Pelabuhan Bira. Dari pelabuhan ke kawasan Pantai Tanjung Bira emang agak jauh kalo jalan kaki, sekitar 1 km. Tapi bisa naik pete-pete kok.

Baca juga :

8 thoughts on “Menyapa Tanjung Bira

  1. wah mantap perjalanannya Benar Salassa Guest House cocok untuk para backpacker ada juga ninis shunshine kedua pengelolanya sangat familiar dan ramah dibanding dengan umumnya hotel …..
    bila butuh transportasi kontak ke 085342633633

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s