Museum Ullen Sentalu : Bermain ke Masa Lalu

Saya enggak pernah suka datang ke museum. Saya enggak ngerti apa asiknya ngeliatin benda-benda kuno yang dipajang. Membosankan. Dapat pengetahuan? Boro-boro. Baca labelnya saja cuma sepintas lalu. Foto-foto, terus uwis, pulang tanpa dapat pengetahuan apa-apa. Museum di Indonesia sejauh ini yang paling asik ya House of Sampoerna di Surabaya. Selain karena arsitekturnya yang oke, display koleksi-koleksinya pun menarik. Ruangannya yang adem pun bikin betah.

Adalah sebuah museum di daerah Kaliurang Yogyakarta yang bikin saya penasaran. Beberapa orang bilang kalau museum ini salah satu tempat wajib kunjung di Yogya. Museum Ullen Sentalu namanya. Museum yang menampilkan budaya dan kehidupan para bangsawan Dinasti Mataram ini hadir dengan konsep yang berbeda dari museum-museum di Indonesia pada umumnya. Harga tiketnya saja terbilang mahal untuk ukuran museum, yaitu Rp. 30,000 untuk pengunjung lokal dewasa. Tapi harga tiket itu worth it banget, mengingat banyaknya informasi yang didapat. Harga tiket sudah termasuk educator/pemandu, jamu Ratu Mas, dan biaya parkir.

IMG_6225

Museum biasanya identik dengan benda-benda peninggalan masa lalu. Tapi tidak di sini. Museum Ullen Sentalu juga berfungsi sebagai galeri seni, dan didominasi karya seniman-seniman modern. Oleh karena itulah pengunjung tidak diperbolehkan mendokumentasikan sebagian besar area museum, karena karya-karya itu tidak bisa sembarangan dipublikasikan. Sebagian besar koleksi terdiri dari lukisan dan foto. Tidak ada label terpasang di depan setiap koleksi, karena konsep museum ini lebih menekankan kepada kisah atau peristiwa di balik setiap benda. Dan di situlah fungsi pemandu berperan, sebagai pencerita kisah-kisah tersebut, sehingga memudahkan pengunjung menyerap informasi. Oleh museum ini, kita seakan dibawa kembali ke masa lalu.

IMG_6236

IMG_6257

Jadi jika di museum biasanya kita cuma dapat informasi seperti, “Oh, ini fotonya Sultan Hamengkubuwono”, di Ullen Sentalu kita akan diberi cerita tentang masa kecil Sultan, hobinya apa, kepimimpinannya bagaimana, dll dll. Informasinya jauuh lebih mengena. Di museum ini lah saya baru tahu apa bedanya batik Yogyakarta dan batik Solo, baru tau filosofi dari detail-detail baju pengantin Jawa, baru tau kalau putri jaman dahulu ada juga yang tomboi dan enggan dijodohkan, baru tau kalau permaisuri suka bawa kunci gembok kemana-mana, dan baru tau ada raja yang jomblo seumur hidup karena enggak dibolehin nikah sama ibunya. Kasian.

Satu pemandu biasanya memandu rombongan yang terdiri dari sekitar 15 orang. Untuk masuk ke museum ini memang tidak bisa gerudukan dalam rombongan besar, dikarenakan luas ruangannya yang terbatas.  Pengunjung akan dibawa dari ruangan satu ke ruangan lain, dari bangunan satu menuju bangunan berikutnya, dengan pemandu yang terus bercerita. Saya yakin kalau si pemandunya sudah nelen puluhan buku sejarah, saking lancarnya nyerocos gak berhenti-berhenti.

IMG_6237

IMG_6254

IMG_6262

Museum Ullen Sentalu terdiri dari beberapa ruangan dan bangunan. Memasuki museum ini seakan memasuki labirin. Kita akan dibawa menyusuri lorong-lorong yang sempit dan berliku-liku. Bahkan ada salah satu bangunannya yang terletak di bawah tanah, karena menyesuaikan kontur tanah yang tidak rata. Setelah itu kita akan dibawa keluar menuju bangunan yang berdiri di atas kolam air, menyusuri selasar dan taman-taman yang asri, lalu berakhir di sebuah plasa berbentuk amphiteatre dengan pilar-pilar batu yang menjulang dan kolam teratai yang mempercantik landscape-nya. Yang pasti pengalaman ruang di sini tidak monoton seperti museum pada umumnya.

Penataan ruangannya yang berliku-liku pun saya yakin punya filosofi tersendiri. Kalau kata si pemandu sih, menggambarkan lika-liku kehidupan manusia. Arsitektur, tata bangunan, dan landscape museum ini memang sangat menarik. Bangunannya didominasi oleh material batu, dan tidak hanya bergaya Jawa, tapi juga ada campuran arsitektur modern serta kolonial. Landscape-nya sangat asri dengan pepohonan hijau ditata apik di berbagai penjuru area museum. Selain ruang pamer, Museum Ullen Sentalu juga dilengkapi dengan fasilitas restaurant dan toko souvenir.

IMG_6252

IMG_6246

IMG_6267

Keluar dari museum ini, otak saya serasa di-refill  sama pengetahuan-pengetahuan baru. Dan saya semakin yakin kalau sesuatu yang dikelola oleh pihak swasta hasilnya jauh lebih baik daripada dikelola oleh pemerintah.

Museum Ullen Sentalu

  • Alamat : Jl. Boyong Taman Wisata Kaliurang, Yogyakarta
  • Jam buka : Selasa – Minggu, pk. 08.30 – 16.00 WIB (hari libur nasional tetap buka)
  • Harga tiket : Pengunjung lokal-dewasa: Rp. 30.000, anak-anak (5-16): Rp. 15.000

Baca juga :

7 thoughts on “Museum Ullen Sentalu : Bermain ke Masa Lalu

  1. Kebalikan yaaa.. Aku malah suka ke museum dan museum Ullen Sentalu adalah salah satu favoritku di Indonesia. Emang bener, museum ini keren bgt, aku sampe udah tiga kali ke sana. :D
    Semoga makin banyak museum pemerintah yang oke punya. Udah pernah ke Museum MNasional, Museum Bank Indonesia, dan Museum Bank Mandiri di Jakarta? Itu juga bagus.

  2. kaka saya mau tanya, kalo salah satu foto kakak saya masukin di project majalah yang saya buat boleh ga ya kak? saya mau ijin dulu biar ga ada masalah, tapi watermark nya engga saya ilangin kok itu bakal tetep stay buat ngasih tau kalo itu foto dari blog ini, mohon responnya segera kak makasih :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s