A Glimpse of Raja Ampat

Posisi Raja Ampat sebagai destinasi impian bagi kebanyakan orang di Indonesia, masih ada di posisi teratas. Tiap ada orang yang tau saya suka bepergian dan suka ke pantai pasti selalu tanya,”Sudah ke Raja Ampat?” Dan ketika saya jawab,”Sudah,” mereka lalu bersorak,”Waaahh…kerenn!” Serasa gengsi langsung naik.

_MG_0132-01_1

Di puncak Wayag

Belum ada penerbangan langsung menuju Raja Ampat. Kalau enggak salah sudah ada bandara di Waisai (ibukota Raja Ampat), tapi entah deh gimana itu nasibnya. Kebanyakan orang mengambil penerbangan menuju Sorong, lalu menyeberang dengan kapal cepat selama 2 jam menuju Waisai.

Sekilas Sorong

Sorong adalah salah satu kabupaten di Papua Barat yang jadi pintu masuk menuju Raja Ampat. Saat ini ada 3 maskapai yang melayani penerbangan dari Jakarta ke Sorong, yaitu Sriwijaya, Lion, dan Garuda. Teman-teman saya sering bertanya, “Aman gak sih di Sorong?”. Maklum, image Papua selama ini memang kurang bagus karena adanya penyakit malaria, HIV AIDS, dan konflik yang ditimbulkan oleh Organisasi Papua Merdeka.

Jangan bayangkan hutan dan suku-suku pedalaman jika tiba di Sorong. Kota Sorong yang merupakan salah satu kota besar di Papua, sudah terbilang cukup maju dan berkembang. Kendaraan umum mudah ditemukan, banyak hotel, ada resto fast food ayam yang terkenal itu, bahkan sudah ada mall lho. Kalau aman atau enggaknya sih, aman-aman saja kok. Banyak pendatang dari Jawa (saya ketemu ibu penjual gado-gado asal Kediri!), Makassar, dll yang bekerja di kota ini.

Raja Ampat

Raja Ampat itu luaaas banget. Jangan kira bisa keliling ke semua tempat di Raja Ampat dalam waktu seminggu. Gak mungkin! Orang-orang biasanya lebih memilih ke pulau-pulau yang letaknya gak jauh dari Waisai (ibukota Raja Ampat yang terletak di Pulau Waigeo), seperti Mansuar, Kri, Arborek, Friwen, dan Wayag. Salawati dan Batanta belum populer sebagai tujuan wisata. Sedangkan Misool, butuh ekstra waktu dan ekstra budget untuk ke sana karena letaknya yang jauh dari Sorong.

Gusung pasir Kri

Gusung pasir Kri

Birunya laut di Wayag

Birunya laut di Wayag

Peraturan di Desa Arborek

Peraturan di Desa Arborek

Belum sah ke Raja Ampat kalau belum ke Wayag. Wayag adalah gugusan kepulauan bukit karang yang terletak sekitar 3 jam perjalanan (dengan speed boat) dari Waisai ke arah barat laut. Kawasan ini dijaga oleh organisasi Conservation International (CI). Pengunjung wajib izin dan dipandu oleh petugas CI untuk naik ke atas bukit Wayag. Tidak semua bukit bisa dinaiki, dan untuk menaikinya butuh stamina yang oke karena kemiringannya hampir 90 derajat. Pakai sepatu atau sandal gunung itu wajib!

_MG_0156-01

Pemandangan dari salah satu puncak Wayag

Bukit karst di Wayag

Bukit karst di Wayag

Enggak ada fasilitas resort atau cottage di kepulauan Wayag. Kalau mau menginap, bisa bermalam di pos CI atau dengan berkemah. Penginapan yang banyak dan murah adanya ya di Waisai. Ingin menginap di pulau, pinggir pantai, dan harga terjangkau? Ada beberapa homestay di Kri, Arborek, dll. Harganya berkisar 500 ribu/orang termasuk 3 kali makan.

Kenapa biaya ke Raja Ampat mahal?

  1. Saat ini harga bensin di Raja Ampat sudah mencapai Rp. 16.000/liter. Sedangkan untuk mencapai Wayag, dibutuhkan bensin sekitar 400 liter untuk perjalanan pulang-pergi. Hitung saja sendiri berapa biaya bensin yang dibutuhkan. Belum lagi biaya sewa speed boat-nya.
  2. Tiket masuknya saja mahal. Pengunjung wajib membeli tiket masuk berupa pin yang berlaku selama 1 tahun, seharga Rp. 500,000 untuk wisatawan lokal. Jangan coba-coba tidak membeli pin ini, karena di setiap lokasi wisata akan ada petugas yang memeriksa. Tanpa pin tentu saja kita enggak akan bisa melanjutkan perjalanan. Biaya pin ini digunakan untuk konservasi dan pemeliharaan lingkungan di Raja Ampat. Selain itu, Dinas Pariwisata Raja Ampat tidak ingin Raja Ampat menjadi pariwisata murahan, yang akibatnya akan terjadi mass tourism (pariwisata massal) karena banyaknya rombongan dan berpotensi menimbulkan kerusakan alam.
Menurut pin ini, saya adalah pengunjung ke-8468 di tahun 2013

Menurut pin ini, saya adalah pengunjung ke-8468 di tahun 2013

Pemandangan pantai dari arah kamar homestay

Pemandangan pantai dari arah kamar homestay

Di desa-desa wisata (seperti Arborek, Sawingrai, Yenbuba, dll) akan mudah ditemui anak-anak kecil yang bermain-main di dermaga. Anak-anak kecil ini biasanya langsung lari mendekat begitu ada wisatawan. Enggak ada salahnya bawain mereka oleh-oleh seperti snack atau makanan ringan atau bahkan buku-buku bacaan (jangan uang ya). Dengan begitu biasanya mereka akan lebih mudah diajak foto bareng. Mau disuruh foto terjun ke laut pun juga oke. Hihihi.

IMG_0248

Bareng bocah-bocah Kampung Friwen

Bawah laut Raja Ampat memang gak perlu diragukan lagi karena sebagian besar spesies ikan dan terumbu karang di dunia adanya ya di Raja Ampat. Bahkan di beberapa desa wisatanya, enggak perlu jauh-jauh naik boat sampe ke tengah lautan untuk bisa menikmati pemandangan bawah laut yang oke. Tinggal berenang kecipak-kecipuk dari pinggir pantai atau terjun dari dermaga aja sudah bisa nemu hamparan koral yang cantiknya gak karuan. Dan gak perlu bisa diving untuk liat cantiknya bawah laut Raja Ampat. (selengkapnya bisa dibaca di sini)

Giant trevally lagi schooling

Giant trevally lagi schooling

Perairan Raja Ampat adalah perairan yang kaya akan plankton. Oleh karena itu sebenarnya visibility-nya cenderung rendah. Tapi karena plankton adalah makanan ikan, sudah pasti spesies ikan di Raja Ampat sangat banyak dan beragam. Snorkeling aja sudah bisa ketemu ikan gede-gede yang lagi schooling. Tapi karena banyak plankton, disarankan enggak memakai baju renang yang terlalu terbuka, karena biasanya akan berasa celekit-celekit seperti digigit semut, yang akhirnya bikin kulit merah-merah dan gatal.

Waktu terbaik ke Raja Ampat adalah bulan Oktober – Mei. Selain cuaca yang bersahabat, di bulan-bulan itu kita bisa ketemu si ikan pari manta yang seliweran di Manta Point. Yang wajib dibawa ketika ke Raja Ampat selain uang cash (karena gak ada ATM), sepatu/sandal gunung, dan baju renang, tentu saja adalah sunblock untuk melindungi kulit dari panas yang menyengat. Jangan lupa juga bawa lotion anti nyamuk dan pil kina, karena Raja Ampat adalah daerah endemik malaria.

Pulau Kri

Pulau Kri

Pesan dari KKLD setempat. Inga inga!

Pesan dari KKLD setempat. Inga inga!

Mau ke Raja Ampat dengan harga yang lebih terjangkau? Yuk join trip Raja Ampat “Low Cost” bareng Berangan Trip! Detail: http://wp.me/p3FEJm-C

Baca juga :

13 thoughts on “A Glimpse of Raja Ampat

  1. Aku ke sana cuma smp waisai aja. Jd di pantai2 sekitaran waisai. Nambahin ya ke Sorong ada Sriwijaya juga. Kalo dr Surabaya bisa pake Ekspressair. Ortu aku masih di Sorong soalnya. Jd kdg2 mudik kesana
    Nice article btw ;)

  2. kan kalo mau menuju raja ampat itu harus berhenti dulu di sebuah pulau, berarti di raja ampat itu sendiri di sekitaran pantainya tidak ada rumah penduduk dong ya gan?

    terimakasih ;)

  3. Udah menetap di raja ampat tp blom nyampe wayag cuma ke painemo aja itu mirip sama wayag, asli cantiknya.. Oia jgn lupa hadiri sail raja ampat bulan agustus ini, banyak banget tamu dr luar negeri yg dtg ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s